Selasa, 19 Desember 2017

Mahasiswa China di Australia Diimbau Waspada, Ada Apa?


Konsulat China di Melbourne memperingatkan mahasiswa dari Tiongkok agar selalu waspada terhadap lingkungan mereka. Imbauan ini semakin gencar diumumkan pascaterjadinya serangkaian serangan.

"Baru-baru ini, muncul beberapa kasus penyerangan terhadap mahasiswa China di Australia," kata konsulat dalam pernyataan tertulisnya, seperti dilansir dari South China Morning Post, Selasa (19/12/2017).

Meski konsulat tidak merinci jumlah mahasiswa yang menjadi korban, pihaknya tetap meminta kepada siapa saja yang berada dalam situasi berbahaya agar segera menghubungi polisi, atau melapor ke kedutaan jika merasa dalam situasi tak aman.

"Kami mengimbau mereka untuk waspada di  manapun mereka berada di Australia," lanjut pernyataan itu, yang ditulis dalam Bahasa Mandarin.

Pada bulan Oktober, tiga mahasiswa China diserang oleh dua pemuda di sebuah terminal bus di Canberra. Menurut laporan, kedua pemuda itu meminta rokok dari tiga mahasiswa tersebut, namun permintaan mereka ditolak. Satu mahasiswa dilarikan ke rumah sakit setelah dihajar dan kedua pemuda itu telah diamankan polisi.

Kasus ini memicu protes di kalangan masyarakat Tionghoa yang tinggal di Australia. Mereka mendesak pemerintah setempat untuk segera bertindak. Menurut mereka, penyerangan itu bisa merusak reputasi Negeri Kanguru sebagai negara yang aman bagi mahasiswa asing.

Dalam kasus yang lebih serius, pada bulan Agustus, seorang mahasiswa Australia di Australian National University menyerang dosen pengajar dan teman sekelasnya menggunakan tongkat baseball. Empat mahasiswa China terluka dan dilarikan ke rumah sakit.

Di Melbourne, pada bulan Juli, poster anti-China ditemukan di dua universitas kota tersebut. Mengetahui hal itu, otoritas akademik langsung mencopot poster dan menyelidiki kasus ini.

Australia memang menjadi salah satu tujuan populer bagi mahasiswa China. Pada tahun 2015, total mahasiswa yang belajar di Negeri Kanguru itu mencapai 27 persen, menurut data dari Australian Department of Education and Training.

Namun tensi antara Canberra dan Beijing meningkat pada tahun lalu, diduga karena campur tangan China dalam duina perpolitikan dan diplomasi Australia.

Senator Australian Labor Party atau Partai Buruh, Sam Dastyari, mengumumkan pengunduran dirinya pekan lalu setelah dituduh memiliki kedekatan dengan para "pendonor" partainya, termasuk pengusaha keturunan China-Australia, Huang Xiangmo.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar